Dear my Blog...
Apa kabar dalam tulisan beku yang tak beranjak dari diam?
Maaf... begitu lama mengabaikanmu.
Dinamika hidup menjerat aku menjadi manusia tekhnis
Ini memalukan, managerial buruk untuk kehidupan yang lebih baik.
Dear my Blog...
Apa kabarmu dalam kebisuan tak berteman?
Tahukah kau..??
Bulan-bulan terakhir dipenghujung tahun ini negeri kami lumpuh tercederai?
Semua hilang, kewibaan negeri hanya mimpi diatas awan
Tepat seperti ketika kita menatap rumah-rumah tak berpenyangga
Kaki goyah saat melangkah masuk untuk menghuninya
Sebab kita tau, setiap waktu ancaman kerobohan atapnya mengintai kita tanpa perasaan
Bahkan nyawa seorang anak negeri lumat hangus terbakar
Jiwanya terbang....
Untuk rintihan sebuah lagu yang kerap didendangkannya
Dalam syair-syair kobaran semangat Darah Juang
Dear my Blog...
Duka cerita kukabarkan juga kepadamu
Tentang ia... yang tubuhnya nyaris tiada luput dari siksaan tak berkemanusiaan
Ketika fitnahan itu membelenggu hari-harinya
Ia juga... pergi ketika perjuangannya belum sampai pada titik akhir kemerdekaan hidupnya
Luka mendalam...
Penyesalan...
Negeri kami...
Pemimpin kami...
Pengabaian pada hak-hak kami...
Luka kami...
Berdarah, dan terus berdarah
Hampir hilang kemanusiaan negeri kami.
Dipenghujung tahun..., yang diawal tahun dulu begitu sangat diagungkan.
Catatan yang terkumpul
Sabtu, 31 Desember 2011
Senin, 18 Oktober 2010
Cerita ini sudah lama dibuat. Kutulis dengan merangkum pemikiranku dan merangkum catatan ketika aku berada di sebuah kelas Pelatihan Hak Azasi Manusia Tahunan yang diadakan oleh Equitas dan Elsam setahun lalu. Ada sesuatu yg tidak bisa aku lukis dalam cerita ini ketika aku selesai membuatnya. Diantara beberapa cerita pendek yang pernah kubuat (dan masih kusembunyikan), cerpen ini adalah yang punya kekuatan mistis bagiku. Aku tidak bisa menjelaskannya, apa itu dan kenapa.
----------------------------------------------- ******* ---------------------------------------------
Kalau Aktivis Jangan Cengeng
Didedikasikan untuk masyarakat miskin kota, kawan dalam buku kejujuran, bado, ‘mamake’ & orang-orang yang begitu peduli padaku, terimakasih atas semua cintanya
“Aku sangat menyayangimu Sa, hanya saja aku menginginkan wanita lain untuk menjadi bagian dalam hidupku” suara Han pelan, hampir saja tidak terdengar, tapi begitu menusuk dihatiku. Sakit sekali rasanya mendengar pengakuannya. Aku menatapnya tajam tapi hanya sesaat kemudian aku menundukkan kepalaku.
Han, pria dewasa yang kukenal enam tahun lalu. Sosoknya yang begitu kuat mampu menjungkirbalikkan perasaanku. Hingga entah bermula dari mana, persahabatan kami lama kelamaan kumaknai berbeda. Diam-diam aku menyimpan sesuatu yang istemewa untuknya. Han bagiku berbeda dengan yang lain, ia sangat menghormati perempuan, kuat dengan prinsipnya dan tak pernah menyerah. Dia juga bertanggunggung jawab. Han sering memarahiku kalau aku tidak bisa mengerjakan seperti yang ia harapkan, tapi ia pelindungku saat aku benar-benar galau. Aku masih ingat betul, suatu ketika saat ia memarahiku habis-habisan, karena proposal kegiatan untuk acara kampus kuhilangkan entah kemana, tapi lain waktu ia juga yang meredamkan tangisku saat ada kakak kelas yang dengan iseng menggangguku. Tanpa sadar aku tersenyum kecil mengingat kenangan itu. Kampusku, teman-temanku, dan Hanku…enam tahun lalu.
Aku tidak ingin menangis, harusnya tertawa lepas karena aku bebas dari himpitan sesak yang selama ini membelengguku. Enam tahun aku dalam kerangkeng kesendirian, Tepatnya setelah kesadaran muncul bahwa Han bukan hanya sekedar teman. Enam tahun aku mengunci rapat hatiku, tidak sedikitpun memberi ruang pada jiwa baru yang ingin masuk kedalamnya. Enam tahun aku menunggu Han mengungkapkan sesuatu. Tapi ucapan itu tidak pernah terdengar. Sampai kemudian ia memberi kabar bahwa ia akan menikah. “Kenapa mendiamkannya selama ini Han?” pekikku dalam hati. “Kenapa sekalipun tidak pernah berucap kalau kau tidak menginginkan aku..?!, kenapa membiarkan aku menunggumu? kurang isyarat apa aku menunjukkan kepadamu kalau aku menyayangimu? kurang jelas apa puisi yang kukirimkan setahun lalu? Tapi kau diam Han, kau tidak pernah memberi jawab dengan gelengan, kenapa Han..? kenapa…?” aku lunglai tidak bisa meneruskan amarahku.
“Maafkan aku Sa..” kata-kata Han terdengar lagi di telingaku. “Kau tahukan, aku pernah mengatakan padamu kalau aku sangat mencintai ibuku, dan aku ingin mendapatkan wanita seperti dia. Dia wanita lembut Sa, penuh cinta dan kasih sayang, ia begitu mengabdi pada suaminya, sosok yang tak pernah membantah dan sosok itu sudah kutemukan Sa, pada wanita lain” Han mengungkapkan alasan mengapa ia tidak memilihku. Kata-katanya semakin menyakiti perasaanku. Ego perempuanku berontak, harga diriku dicabiknya. Dia memberi penilaian padaku dan mulai membanding-bandingkan. Tapi aku tidak kuasa bicara. “Kau tahu Sa? ia menambah penjelasannya yang membuat aku semakin tidak berdaya “Setiap kali kau bercerita tentang gerakan, kebijakan public, hak dan tanggungjawab Negara, demonstrasi dan lain sebagainya, aku semakin sadar, ada garis yang begitu kuat menjelaskan kalau sosok yang kucari itu bukan padamu Sa. Aku tahu ini menyakitimu, tapi aku ingin jujur”
Aku membencimu Han, jangan sok bicara jujur denganku. Dimana kejujuranmu selama ini? “Kau tahu kenapa aku diam selama ini?, karena aku tidak sampai hati mengatakannya Sa, karena aku menyayangimu dan aku tidak ingin menyakitimu”. “Itu bukan alasan Han” teriakku marah, tapi hanya dalam hati, “Aku tetap sakit Han, baik kau katakan atau kau diamkan, tapi kalau kau bicara setidaknya aku tahu dengan jelas Han, aku bisa dengan tegas mengambil sikap, aku bisa mengelupaskan mimpiku, kalau saja itu kau katakan saat setahun lalu ketika aku mengirimimu puisi, kau jahat Han” aku terisak tidak dapat menahan tangis, tapi lagi-lagi itu hanya bisa kulakukan di belakang Han.
Langit masih menyisakan mendung, bekas hujan sore tadi menyambut maghrib dengan dingin. Luncuran kalimat yang disampaikan Han 2 minggu lalu masih belum hilang dari gendang telingaku. “Kenapa tidak pernah mengatakan kalau kau tidak setuju dengan aktivitasku Han?" hanya itu tanya yang bisa kusampaikan saat itu. “Itu tidak mungkin Sa, sesungguhnya aku tidak pernah berkeberatan dengan itu dan aku kenal betul kau, itu duniamu, aku salut denganmu Sa, dengan keberanian dan kemandirianmu” Han berusaha meyakinkanku. “Sa, aku sayang kamu Sa, percayalah kau akan tetap menjadi adikku” “Diam Han, diam, aku muak mendengar kata-katamu” jeritku, kugelengkan kepalaku sebab suara Han masih terus berdengung di telingaku. Aku menangis, membiarkan tubuhku terguncang, aku tidak perduli kalau esok mataku akan sembab, aku sakit, sakit sekali. “Kau tahu Han?” kataku dalam hati, “aku bisa lebih dari yang kau inginkan, aku bisa menjadi sosok itu Han. Sangat bisa malah, aku akan menunggumu Han, setiap sore diteras rumah kita, aku akan menghentikan langkahku, kalau kau menginginkannya. Aku bisa diam Han dan mengangguk jika kau ingin aku tidak bicara. Tahukah kau Han?, aku menyebutmu prabu dalam setiap kata untuk memanggil namamu, dan dengan segala keterbatasanku akan kujalankan semua titahmu. Aku terus menunggu Han, padahal tidak sedikitpun bisa kulihat sisa-sisa bayangmu dalam kesendirianku. Aku mau Han, aku mau menjadi jembatan untukmu, karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu, tapi kenapa tidak mengambilku Han?”. Aku lelah menangis, dan malam mulai merambat, suara jengkrik tidak lagi terdengar, mungkin mereka tahu kalau aku sedang tidak ingin mendengar suara-suara.
Sebulan berlalu setelah Han menyampaikan berita rencana pernikahannya. Aku baru saja selesai membakar semua buku kejujuran yang bercerita tentangnya, yang kutulis selama enam tahun ini. Hari ini Han menikah, tidak ada lagi yang tersisa. Aku menatap tanpa kedip setiap lembar yang terbakar, menghitam dan menjadi abu lalu terbang tanpa meninggalkan bekas. Seperti hatiku, tanpa bekas menanggalkan rasa untuk seorang Han. Aku mulai bisa berfikir jernih. Melatih kecerdasan emosiku. Han benar, aku tidak ingin meninggalkan duniaku. Karena sesungguhnya aku menikmatinya. Aku kembali teringat tulisan tangan kawan-kawanku yang mereka sisipkan dalam gambar hati berwarna hijau “Grow up & just do it, rakyat miskin kota menunggumu, Kalau “aktivis” jangan cengeng, Semangat & tetap ceria, Jangan disiram ya…” semuanya memberi spirit baru. Sesaat aku melupakan Han. “Tapi aku juga bisa menjadi seorang isteri yag baik Han, pada jiwa lain”, gumamku pelan. Aku tersenyum dan malu sendiri mendengarnya, lalu bangkit. Kuambil Hp buatan cina milikku, aku ingin mengucapkan selamat untukmu Han, semoga kau bisa menjadi suami yang baik bagi isteri pilihanmu, aku tidak akan pernah bisa membencimu. Aku mengambil hikmah dari kejadian ini Han, belajar ikhlas karena ikhlas membantuku mengobati luka. (rhomee - terinspirasi setelah mengikuti PHAMT2 - thx to pipiet,isnur,sudar,ml,ella,onasis,putri&adam, 8 Maret 2009, 2 dini hari)
Kamis, 14 Oktober 2010
Pra Catatan
Setelah lama....
Lahir lah ruang tak bersekat, sebuah tanda catatan tak ingin lagi terserak.
Selamat datang cerita-cerita tertulisku dalam sebuah Catatan Yang Terkumpul.
Lahir lah ruang tak bersekat, sebuah tanda catatan tak ingin lagi terserak.
Selamat datang cerita-cerita tertulisku dalam sebuah Catatan Yang Terkumpul.
Langganan:
Postingan (Atom)